Escalation of Commitment

psikologi di balik kenapa perang atau proyek gagal terus dilanjutkan

Escalation of Commitment
I

Pernahkah kita duduk di bioskop, menonton film yang jalan ceritanya berantakan, tapi kita tetap memaksakan diri menonton sampai tamat? Alasan kita biasanya sederhana: sayang tiketnya sudah dibeli. Atau mungkin, kita sedang mengantre makanan yang katanya viral. Setelah satu jam berdiri dan kaki mulai pegal, kita sadar ini buang-buang waktu. Tapi kita tidak keluar dari antrean. Kita bergumam, "Tanggung, sudah kepalang antre lama."

Dalam skala kecil, ini terdengar seperti kekonyolan sehari-hari yang wajar. Sekarang, mari kita perbesar skalanya. Bayangkan "tiket bioskop" itu adalah dana triliunan rupiah untuk proyek infrastruktur yang salah desain. Bayangkan "waktu mengantre" itu adalah ribuan nyawa prajurit yang melayang di medan perang. Sejarah mencatat pola yang mengerikan ini berulang kali. Negara-negara besar terseret dalam perang panjang yang tak bisa dimenangkan. Perusahaan raksasa bangkrut karena mempertahankan produk gagal. Mengapa manusia, makhluk yang katanya dibekali nalar paling rasional di muka bumi, justru sering menolak untuk mundur saat kapal sudah jelas-jelas akan tenggelam?

II

Mari kita bedah pelan-pelan. Secara instingtif, kita sering mengira bahwa manusia selalu membuat keputusan berdasarkan hitung-hitungan untung dan rugi di masa depan. Kenyataannya, otak kita tidak bekerja sebersih itu. Ada satu glitch atau kecacatan sistemik dalam cara kita berpikir yang oleh para ekonom disebut sebagai sunk cost fallacy—sesat pikir biaya siluman.

Secara evolusioner, otak kita didesain untuk sangat membenci kerugian. Kehilangan sumber daya di masa purba berarti kematian. Akibatnya, ketika kita sudah menanamkan waktu, uang, atau tenaga ke dalam sesuatu, otak kita akan mengikatkan emosi pada investasi tersebut. Kita menjadi buta terhadap fakta obyektif. Alih-alih bertanya, "Apakah proyek ini akan berhasil di masa depan?", otak kita malah terfokus pada rasa sakit akibat kerugian di masa lalu. Kita berusaha keras menambal kebocoran, meski tahu embernya sudah hancur. Namun, sesat pikir ini baru menceritakan separuh dari keseluruhan misteri.

III

Jika ini murni hanya soal hitung-hitungan kerugian finansial atau waktu, seharusnya data dan fakta yang disajikan oleh para penasihat militer atau analis bisnis sudah cukup untuk menghentikan bencana. Nyatanya, tidak. Mari kita ambil contoh nyata dari sejarah: proyek pesawat jet supersonik Concorde. Proyek patungan Inggris dan Prancis ini sudah terbukti tidak akan pernah balik modal jauh sebelum pesawat pertamanya selesai dibuat. Tapi anehnya, pemerintah kedua negara justru terus menyuntikkan dana tanpa henti.

Atau lihatlah peperangan parit di Perang Dunia Pertama. Para jenderal tahu persis strategi menyerbu parit musuh hanya akan membuahkan pembantaian tanpa menghasilkan kemajuan teritorial yang berarti. Lalu, mengapa mereka terus mengirimkan gelombang demi gelombang prajurit muda menuju hujan peluru peluru? Mengapa semakin buruk situasinya, para pemimpin ini justru semakin nekat dan menggandakan taruhan mereka? Apa rahasia gelap yang tersembunyi di balik tengkorak kita, yang mengubah manusia pintar menjadi penjudi yang tak tahu kapan harus berhenti?

IV

Inilah momen di mana sains memberikan jawaban yang sedikit menampar ego kita. Peneliti psikologi bernama Barry Staw mencetuskan istilah untuk fenomena mematikan ini: Escalation of Commitment atau eskalasi komitmen. Staw menemukan bahwa alasan kita menolak untuk mundur bukanlah tentang uang atau waktu itu sendiri. Ini murni tentang ego dan perlindungan identitas diri.

Ketika seorang pemimpin, atau kita sendiri, mengakui bahwa keputusan awal kita salah, otak kita mengalami konflik batin yang parah yang disebut cognitive dissonance. Secara neurologis, pemindai otak (fMRI) menunjukkan bahwa rasa sakit akibat kehilangan status sosial atau mengakui kebodohan diri diproses di area otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Amigdala kita—pusat rasa takut di otak—berteriak seolah-olah kita sedang diserang harimau.

Untuk meredakan rasa sakit tersebut, otak mencari obat penawar berupa pembenaran diri. Kita akhirnya meyakinkan diri sendiri dengan cerita palsu: "Kita tidak salah langkah, kita hanya butuh waktu sedikit lagi, dana sedikit lagi, atau pasukan sedikit lagi." Di sinilah sistem dopamin otak kita dibajak. Otak mulai melepaskan dopamin bukan karena kita menang, melainkan karena ada harapan semu bahwa kegigihan kita pada akhirnya akan membuktikan bahwa kitalah yang benar. Ini adalah siklus kecanduan. Kita tidak lagi berjuang demi memenangkan perang atau menyukseskan proyek; kita berjuang semata-mata demi membuktikan bahwa keputusan bodoh kita di masa lalu sebenarnya tidak bodoh.

V

Memahami mekanisme Escalation of Commitment adalah pengalaman yang merendahkan hati. Kita jadi sadar bahwa jenderal yang keras kepala atau CEO yang arogan sebenarnya hanyalah manusia biasa yang otaknya sedang ketakutan setengah mati menghadapi rasa gagal. Dan mari jujur pada diri sendiri, teman-teman. Kita semua pernah terjebak dalam eskalasi komitmen ini. Mungkin bukan memimpin perang dunia, tapi mungkin kita bertahan bertahun-tahun dalam hubungan asmara yang sangat toxic, melanjutkan bisnis yang terus menggerogoti tabungan, atau memaksakan jurusan kuliah yang membuat kita depresi setiap hari.

Kita sejak kecil dijejali pepatah heroik: pantang menyerah sebelum bertanding, quitters never win. Padahal, sains mengajarkan kita narasi yang jauh lebih welas asih dan realistis. Terkadang, menyerah adalah keputusan paling rasional dan berani yang bisa kita ambil. Mundur dari proyek yang gagal, pekerjaan yang menghancurkan mental, atau ide yang terbukti salah bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah tanda kedewasaan kognitif. Berhenti adalah cara kita merebut kembali kendali atas sisa hidup kita. Jadi, lain kali jika teman-teman menyadari sedang berada di bioskop menonton film yang buruk, ingatlah sejarah. Berdirilah, tinggalkan studio, dan pergilah mencari kopi yang enak. Tidak perlu mati-matian mempertahankan kesalahan hanya karena kita sudah terlanjur memulainya.